Toilet training merupakan salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang anak menuju kemandirian. Namun, setiap anak memiliki waktu belajar yang berbeda sehingga proses ini sebaiknya dilakukan dengan sabar dan tanpa paksaan.

Dalam artikel ini, Anda akan menemukan tanda anak siap memulai toilet training, langkah-langkah yang dapat diterapkan di rumah, serta rekomendasi toilet anak IKEA yang membantu proses belajar menjadi lebih nyaman bagi si kecil maupun orang tua.

Perlu diketahui:

Mengompol saat toilet training selama beberapa minggu hingga beberapa bulan merupakan hal yang wajar. Tetap berikan dukungan positif dan hindari memarahi anak ketika terjadi "kecelakaan".

Kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training?

Tidak ada patokan usia yang sama untuk setiap anak. Memulai toilet training saat anak sudah siap umumnya membuat proses belajar terasa lebih nyaman dan mengurangi risiko penolakan. Beberapa tanda yang bisa kamu perhatikan adalah sebagai berikut.

1. Anak mulai menyadari saat ingin buang air

Salah satu tanda paling umum adalah anak mulai memberi tahu sebelum pipis atau buang air besar, baik melalui ucapan, ekspresi wajah, maupun gerakan tertentu.

Sebagian anak juga mulai merasa tidak nyaman saat popoknya basah atau kotor dan meminta segera diganti. Kesadaran terhadap sinyal tubuh ini menunjukkan bahwa anak mulai memahami kebutuhan untuk pergi ke toilet.

2. Dapat duduk dan berdiri sendiri

Kemampuan motorik juga berperan penting dalam toilet training. Anak yang sudah dapat duduk dengan stabil, berdiri sendiri, serta berjalan dengan baik biasanya lebih siap menggunakan toilet anak. Koordinasi tubuh yang semakin baik membantu mereka naik, duduk, dan turun dari toilet dengan lebih percaya diri.

3. Mampu mengikuti instruksi sederhana

Anak yang memahami arahan sederhana, seperti "ayo ke toilet" atau "duduk dulu di pispot", umumnya lebih mudah mengikuti rutinitas toilet training.

Selain itu, rasa ingin meniru kebiasaan orang tua atau kakak saat menggunakan toilet juga menjadi tanda positif bahwa anak mulai tertarik belajar menggunakan toilet sendiri.

Cara memulai toilet training tanpa membuat anak tertekan

1. Kenalkan toilet anak terlebih dahulu

Sebelum mengajak anak menggunakannya, biarkan ia mengenal toilet anak sebagai benda yang aman dan menyenangkan.

Anda dapat meletakkannya di kamar mandi atau area yang mudah dijangkau, lalu mengajak anak duduk di atasnya beberapa saat tanpa tekanan. Tahap pengenalan ini membantu anak merasa lebih nyaman ketika mulai menggunakannya nanti.

2. Buat rutinitas di waktu yang sama

Konsistensi membantu anak mengenali pola buang air. Ajak anak mencoba menggunakan toilet pada waktu-waktu tertentu, misalnya setelah bangun tidur, setelah makan, sebelum mandi, atau sebelum tidur.

Rutinitas sederhana ini dapat membantu anak menghubungkan kebiasaan sehari-hari dengan penggunaan toilet secara bertahap.

3. Gunakan pujian, bukan hukuman

Setiap keberhasilan, sekecil apa pun, layak mendapatkan apresiasi. Berikan pujian ketika anak mau mencoba duduk di toilet atau berhasil menggunakannya.

Sebaliknya, hindari memarahi atau mempermalukan anak saat masih mengompol karena "kecelakaan" merupakan bagian yang wajar dari proses belajar. Pendekatan yang positif dapat membantu anak tetap percaya diri dan termotivasi.

4. Gunakan pakaian yang mudah dilepas

Pilih pakaian yang sederhana, seperti celana berkaret elastis, agar anak lebih mudah membuka dan mengenakannya sendiri.

Sebaiknya hindari pakaian dengan banyak kancing, ritsleting, atau lapisan yang rumit karena dapat menghambat anak saat ingin segera ke toilet. Cara ini juga membantu melatih kemandirian selama proses toilet training.

Pilihan toilet anak IKEA untuk setiap tahap toilet training

Memilih toilet anak yang sesuai dapat membantu si kecil merasa lebih nyaman selama proses toilet training. IKEA menyediakan beberapa pilihan toilet training anak yang dirancang untuk tahap belajar yang berbeda. Berikut pilihan toiletnya.

1. Toilet anak LOCKIG untuk latihan di rumah

LOCKIG cocok digunakan sebagai toilet pertama bagi anak yang baru memulai toilet training. Pispot ini dilengkapi wadah bagian dalam yang dapat dilepas sehingga isinya lebih mudah dibuang dan dibersihkan tanpa perlu mengangkat seluruh bodi pispot.

Selain itu, bagian bawahnya memiliki lapisan anti-slip yang membantu menjaga posisi pispot tetap stabil saat digunakan, sehingga anak dapat duduk dengan lebih nyaman dan percaya diri.

2. Toilet anak LILLA yang ringkas dan mudah dipindahkan

LILLA memiliki desain sederhana dan ringan sehingga mudah dipindahkan ke berbagai ruangan atau dibawa saat bepergian.

Bentuknya yang ergonomis membantu anak duduk dengan nyaman, sementara permukaannya mudah dibersihkan setelah digunakan. Bagian bawah pispot juga dilengkapi dengan material anti-slip agar tetap stabil selama proses toilet training.

3. Dudukan toilet TOSSIG sebagai tahap transisi

Ketika anak mulai siap menggunakan kloset keluarga, TOSSIG dapat menjadi pilihan sebagai dudukan transisi. Produk ini dipasang langsung di atas kloset duduk dewasa sehingga membantu anak beradaptasi secara bertahap.

Desainnya mengikuti anatomi tubuh anak dengan lekukan yang nyaman, dilengkapi lapisan anti-slip di bagian bawah agar tidak mudah bergeser. Setelah digunakan, dudukan ini juga mudah dilepas, dibersihkan, dan dapat digantung di dinding agar kamar mandi tetap rapi.

Loading offers...

Loading offers...

Bagaimana memilih toilet anak yang sesuai?

Pilihlah toilet anak berdasarkan tahap perkembangan dan kebutuhan sehari-hari agar proses belajar terasa lebih nyaman.

Kondisi anak Produk yang sesuai
Baru mulai toilet training LOCKIG
Membutuhkan toilet yang mudah dibawa LILLA
Sudah siap menggunakan toilet dewasa TOSSIG

FAQ

Tidak selalu. Banyak anak mulai menunjukkan kesiapan pada usia sekitar 18 bulan hingga 3 tahun, tetapi waktu yang tepat bergantung pada perkembangan fisik, emosional, dan kemampuan berkomunikasi masing-masing anak.

Durasinya berbeda pada setiap anak. Ada yang dapat beradaptasi dalam beberapa minggu, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu beberapa bulan hingga terbiasa menggunakan toilet secara mandiri.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Pispot seperti LOCKIG atau LILLA cocok untuk anak yang baru belajar karena ukurannya sesuai dengan tubuh anak. Sementara itu, dudukan toilet seperti TOSSIG lebih tepat digunakan ketika anak sudah siap beralih ke kloset duduk dewasa.

Ya. Banyak anak masih membutuhkan popok saat tidur malam meskipun sudah berhasil menggunakan toilet pada siang hari.

Penolakan merupakan hal yang wajar. Hindari memaksa atau menghukum anak.

Toilet training membutuhkan proses, bukan kecepatan

Setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan kemajuannya dengan anak lain. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi, membangun rutinitas yang positif, serta memberikan dukungan tanpa tekanan ketika anak masih belajar.

IKEA.co.id menyediakan berbagai pilihan toilet anak dan perlengkapan mandi yang dapat mendukung setiap tahap toilet training, mulai dari pispot mandiri hingga dudukan toilet sebagai tahap transisi.

Temukan koleksi toilet anak dan perlengkapan mandi anak IKEA di IKEA Indonesia.